Connect with us

Hi, what are you looking for?

Gaib & Spiritual

Teguran Eyang

Tidak seperti biasanya, kali ini eyang duduk di tempat meditasi saya, bukan di kursi pojok kamar, yang tidak biasa lagi adalah posisi tangan yang sendekap, beliau hanya diam mengamati sampai para tamu selesai dan kamar hening, beliau tetap seperti itu.

“Mohon ditegur bila ada kesalahan saya eyang”.
“Ulangi lagi, apa yang kau nasehatkan pada tamu terakhir tadi” kata beliau dengan nada agak tinggi.
“Saya hanya mengatakan, agar sabar, menerima apa yang telah diberikan, bersyukur atas apa yang sudah dimiliki karena kalau mengejar keinginan tidak akan ada batasnya”.
“Sudah benarkah apa yang kau katakan?”
“Maaf eyang, setahu saya hidup seharusnya demikian”
“Apa kau menantang Tuhan agar menimpakan masalah kepadamu?” kalimat beliau membuat saya terkejut dan tdk tahu apa maksudnya.

“Baik, benar itu ono mangsane (ada saatnya), tidak bisa di jadikan pedoman untuk semuanya, nasehatmu itu baik untuk orang yang sudah selesai masa perjuangannya, baik bagi orang yang sudah mempersiapkan diri menyongsong hari tua, baik bagi orang yang merasa cukup bekalnya dan menempatkan diri sebagai pembimbing atau pengasuh, yang demikian tidak harus menunggu usia tua.

Kalau kau paksakan pada orang yang saatnya berjuang menemukan jati dirinya, orang-orang muda yang harusnya penuh semangat juang menggapai cita-cita, itu malah berakibat buruk, lemah, mlempem sehingga mudah dijajah dan dikendalikan org lain.

Ikhlas, sabar itu sifat Tuhan bagi pribadi yang kuat. pribadi yang telah ditempa lahir bathin dalam kehidupan saat usia produktifnya, setelah melalui masa itu setelah masanya merenungkan, mengkaji, mengevaluasi, mendekatkan diri pada tuhan dengan mengesampingkan kehidupan duniawi”. kata beliau dengan nada keras.Saya diam saja berusaha memahami petuah yang panjang lebar tersebut, hati kecil saya belum bisa menerima sepenuhya.

“Kalau semasa berjuang kau suruh sabar, ikhlas nerimo, maka akan terjadi benturan pada dirinya, berontak karena tidak sejalan dengan lakon yang sedang dilaluinya, karena masih banyak upaya yang ingin dilakukannya.
orang bisa nerimo ing pandum (menerima apa yg didapat) apa bila dia telah melaksanakan upaya maksimal dalam memperbaiki atau memperbanyak yang di dapat semasa produktif, apabila sudah habis dayanya, susut tenaganya, barulah nasehat itu tepat, barulah kalimat kepuasan itu tidak ada habisnya di bisikkan ke telinganya, bukannya di masa muda to le” kata beliau lagi untuk memperjelas petuah sebelumnya, mungkin karena tahu saya masih merenungkan.

Dari ekor mata, saya lihat beliau menurunkan tangannya dari sedekap, tidak mendekat lalu menyentuh pundak seperti bisanya, lenyap.

By Romo Sidharto Haro Pusoro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Sastra

JANGKA RANGGAWARSITAN .I. JAKA LODANG, II. KALATIDA, III. SABDA TAMA, IV. SABDA JATI, V. KALITIDA PININGIT, VI. WEDATAMA PININGIT.   Ingkang ngimpun lan nyukani...

Sastra

PUPUH I ASMARANDANA //Kasmaran panganggitgending / Basa Sunda lumayanan / Kasar sakalangkung awon / Kirang tindak tatakrama /Ngarang kirang panalar / Ngan bawining tina...

Non Medis

Ibu ini adalah satu dari sekian orang yang terkena penyakit kiriman atau bahasa ghaibnya adalah “santet.” Pada saat kami menangani beliau ini, kiriman datang...

Gaib & Spiritual

Ketika dihadapkan pada tantangan jaman, bahwa orang yang belajar ilmu ghaib tidak lagi punya waktu lama untuk prosesi, juga tidak sanggup lagi melakukan dzikir,...

Translate »