Connect with us

Hi, what are you looking for?

Gaib & Spiritual

Oleh Oleh Dari Padepokan Klampis ireng Part 2

Kyai Bantar Angin bergeser agak ke tengah baru kemudian melanjutkan wedarannya, “Hastabrata merupakan cermin dari perwatakan 8 dewa yang bisa dijadikan pegangan bagi penguasa. Pertama adalah Watak Bathara Wisnu yang merupakan dewa keabadian dan kesejahteraan. Bathara Wisnu itu berwatak tanah, sifat dari tanah adalah tawaduk atau andhap asor. Tanah juga salah satu unsur yang menghidupi dari kehidupan diatasnya bahkan tanah bisa lebih penting dari udara. Tanah juga berwatak menjadi sandaran bagi aktivitas makhluk yang diatasnya, tanah juga yang mendaur ulang segala sampah-sampah manusia dan tanah juga yang menerima cacian dan makian.”

“Pemimpin yang berpedoman pada perwatakan Bathara Wisnu maka akan memperlakukan rakyatnya dengan kasih sayang tanpa pandang bulu,dia juga akan rendah hati terhadap rakyat yang dipimpinnya, memberikan kesejahteraan dengan cara pengelolaan sistem pemerintahan yang beramanat kepada semua lapisan rakyat, kuat dan sabar menerima kritik, cercaan dan hinaan serta menjadi sandaran dan tumpuan yang kokoh bagi seluruh rakyatnya, bukankah begitu Gusti Tumenggung?,” tumenggung yang ditanya hanya manggut-manggut

“Silahkan dilanjut ke perwatakan yang kedua Kyai” sela mbah Wiryo tidak sabar. “Perwatakan kedua adalah memahami sifat Bathara Bayu. Yakni dewa angin yang tentu saja berwatak udara atau angin. Udara itu berwatak bisa menelusup kemana saja, wataknya lembut selembut angin yang sepoi-sepoi tapi bisa berwatak keras seperti angin topan yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Salah satu peranan udara yang penting adalah menjadi tak terlihat, udara itu tidak terlihat tapi sangat penting bagi kehidupan, apabila udara terlihat maka pemandangan kita akan tertutup oleh udara itu sendiri. Sehingga pemimpin yang memahami perwatakan Bathara Bayu, dia akan memimpin dengan luwes bisa menelusup dan bergaul kesemua lapisan masyarakat atau tidak jaim. Berwatak lembut terhadap wong cilik dan keras terhadap wong licik, monggo kalau mau ditambahkan,” kata kyai sambil mengamati kami satu persatu.

“Yang ketiga adalah menauladani sifat Bathara Baruna. Yakni dewa laut atau samudera yang berwatak air. Sebagaimana kita tahu air itu berwatak sujud sempurna, apabila kualitas sujud kita sudah sempurna maka ibarat kita sujud dibawah tiang Arsy Nya Allah. Sebab tiang penyangga Arsy atau dampar kencanaNya Allah itu ditopang oleh air, tentu ini sebuah kiasan yang memerlukan pemaknaan lebih dalam. Salah satu sifat air adalah bening tapi kelihatan dan airlah unsur terpenting dari kehidupan, konon kehidupan pertama kali ada di dalam air. Air atau samudera menjadi tempat tujuan akhir dari semua sungai dengan segala kotoran yang dibawanya. Dengan air lah maka pelangi bisa timbul karena butiran-butiran air hujan yang memendarkan cahaya matahari yang berwarna putih menjadi tujuh warna pokok pelangi, maka air bersifat mengejawantah. Apabila air yang membeku menjadi salju maka tidak ada satupun butiran salju yang sama dari ber-trilyun-trilyun butiran salju di dunia ini, maka air berwatak menjadi diri sendiri. Apabila memahami perwatakan Bathara Baruna maka seorang pemimpin akan mempunyai kebeningan hati dan pikiran sejernih air embun. Pemimpin itu harus mempunyai watak kesempurnaan sujud yaitu siap untuk “di lenggahi” atau di duduki oleh ke Maha Kuasaan Allah. Dalam hal ini menjadi kepanjangan tangan Allah tanpa mengaku-aku sepihak. Pemimpin harus bisa menampung segala keluh kesah masyarakat dengan kesabaran hatinya yang seluas samudera. Pemimpin itu harus bisa mengejawantah segala petunjuk Illahi untuk diwujudkan kedalam program-program pemerintahannya. Lebih tepatnya lagi, “Mendengar suara Tuhan dibalik suara rakyat.” Pemimpin harus gigih dan tidak mudah putus asa seperti aliran sungai yang berkelok-kelok akhirnya menuju lautan juga. Pemimpin itu harus menjadi diri sendiri tanpa meniru-niru orang lain hanya kulitnya saja, apalagi sampai mencontek konsep negara lain untuk di adopsi ke negaranya sendiri tanpa kajian yang mendalam.”

“Ehem!,” tiba-tiba terputus oleh dehemnya Ki Demang.

“Maaf Ki Demang, saya kalau sudah medar babagan Hastabrata seolah bergolak lagi darah muda saya, sehingga sering ngelantur, mohon maaf.”
“Tidak mengapa Kyai, karena saya tahu panjenengan muslim sehingga perumpamaannya menjadi begitu, monggo dilanjutkan ke perwatakan ke empat yaitu watak Bathari Ratih,” sambung Ki Demang sambil senyum.

“Mohon di ingatkan kalau nanti ada yang kelepasan lagi”

“Monggo Ki,” kata saya mempersilahkan.

“Watak pemimpin yang keempat adalah watak Bathari Ratih yaitu dewi bulan yang berwatak menyinari bumi dikala malam atau kegelapan. Bulan juga yang menjadikan malam penuh kesejukan, walaupun sinar bulan itu pantulan dari matahari tapi keindahan bulan lebih indah ketimbang matahari maka dari itu bulan menjadi inspirasi bagi para sastrawan diseluruh dunia. Apabila bulan sedang purnama maka air laut akan pasang dalam arti air kehidupan manusia sedang naik”.

“Dipertegas maknanya Kyai, agar tidak salah tafsir, tentang apa yang dimaksud air kehidupan manusia sedang naik,” ternyata itu suara Ketut Warse sambil kerudungan sarung tetap duduk bersandar di tiang pendapa.

“Rupanya orang itu betul memperhatikan setiap detail perkataan Kyai Bantar Angin,” gumam saya.

“Terimakasih Kisanak,” sahut Kyai cepat. “Yang dimaksud air kehidupan manusia sedang naik adalah, bahwa saat bulan purnama yang di ikuti dengan naiknya permukaan air laut, bersamaan itu juga terangkat pula aliran darah manusia ke kepala sehingga manusia mudah tersulut nafsunya yang apabila tidak tersalurkan dengan benar akan menimbulkan masalah yang lebih besar.”
“Maka dari itu kita dianjurkan berpuasa di tengah bulan supaya kita bisa mengendalikan rasa jatuh cinta kita kepada seseorang agar tidak menjadi hal-hal yang buruk seperti perzinahan dan sebagainya,” sambung Ki Tumenggung yang rupanya kasihan juga dengan Kyai Bantar Angin yang seolah dicecar pertanyaan.

“Leres sanget Ki Tumenggung, terimakasih atas bantuannya.”

“Silahkan dilanjutkan Kyai.”
Setelah menarik nafas agak dalam, Kyai melanjutkan uraiannya, “Oleh karenanya, apabila seorang pemimpin memahami sifat Bethari Ratih, dia harus bisa menjadi cerminan dari sifat-sifat dan asma-asma Allah yang baik indah tanpa batas, perkataan pemimpin itu harus penuh dengan kesejukan tidak malah memprovokasi rakyat untuk berbuat anarkis, memberikan cinta dan kasih dengan sepenuh hati kepada rakyatnya, menjadi inspirasi atau menjadi teladan bagi rakyat yang dipimpinnya, mampu memotivasi rakyat yang dipimpinnya agar selalu giat bekerja dan berkehidupan lebih baik dan yang utama adalah mampu memberikan petunjuk atau penerang dikala rakyat sedang kacau atau kegelapan,” Kyai bantar angin menutup kalimatnya dengan masgul. Karena kali ini tidak terpengaruh perasaannya seperti tadi hingga bisa menguraikan dengan runut.
“Selanjutnya biar aku yang menjelaskan Kyai, silahkan diminum kopinya, keburu dingin,” Kata Ki Tumenggung bijak.
Sumonggo Tumenggung.”

Sareh sak antawis poro kadang,” terdengar suara halus seorang wanita dari balakang. Ternyata Nyai Tumenggung yang bicara.

“Sepertinya Kyai juga sudah waktunya mengambil air.”
“Sudah subuh,” desis Kyai Bantar Angin, yang seolah mengingatkan kami semua yang begitu asyik mendengar cerita sehingga lupa waktu beranjak pagi. Maka tanpa dikomando dua kali, pertemuan pun bubar, seperti ngantri kami ke padusan untuk mengambil wudlu.
Dalam keremangan pagi yang dingin menggigit, dari bawah bukit terlihat beberapa obor yang bergerak naik. Makin lama makin dekat dan arahnya persis ke tempat kami. Saya coba mengamati dengan teliti, ternyata beberapa orang juga sudah melihat, bahkan mulai berbisik satu sama lain, “Siapa gerangan yang menaiki bukun di pagi buta begini,” terdengar suara menggumam tidak jelas dari siapa.
“Maaf, mengagetkan, itu warga dusun yang saya pesan untuk mengantar sekedar hidangan menjelang subuh,” kata Nyai Demang yg disambut helaan nafas panjang dari kami.

Setelah mengambil air, kami pun sholat berjamaah, alunan suara Kyai saat membacakan ayat-ayat suci begitu nyaman terasa di telinga, nadanya mirip orang baca kidung, terdengar mengalun di kesunyian pagi. Ternyata Nyai Demang tidak sekedar membawakan makanan penghangat, namun begitu banyaknya nasi sayur dan lauk yg dibawa orang-orang desa itu, suasana menjadi merih dan tanpa sungkan-sungkan kamipun segera bergabung menyantap hidangan. “Saat ini sepertinya kita istirahat dulu, saya dan beberapa teman juga ada keperluan ke bawah,” mbah Wiryo angkat bicara. “Dan yang masih menunggu hingga esok, silahkan beristirahat, maaf, mungkin menjelang maghrib saya baru bisa menemani.”

Monggo mbah, apakah petilasan Maha Patih masih terawat dengan baik,” sahut Ki Tumenggung.
“Masih Ki, bahkan saya beri beberapa undak batu di tempat-tempat yang terlalu terjal, sehingga barangkali Nyai ingin ikut ke atas juga tidak sesulit tahun lalu,” begitu Mbah Wiryo menjelaskan.

Saya masih ingat tempat itu, kira-kira perjalanan 1jam untuk sampai ke puncak bukit sebelah, tidak lebih tinggi dari bukit ini, namun pepohonannya sangat lebat. “Bolehkah saya menemani Ki Demang,” kata saya minta persetujuan. “Monggo ngger, lagi pula siapa juga yang berhak melarang yang mau kesana.”

“Saya juga mau kesana, sudah lama sejak wafatnya ibu negara, tidak lagi mengantar bapak kesana,” yang mengatakan adalah seorang lelaki paruh baya. Saya melihat beliau dengan enam atau tujuh orang yang selalu bergerombol. Ketika saya melihat beliau, di keremangan pagi yang mulai menerangi tanah, saya melihat sosok kecil yang sudah sepuh sekali di rombongan orang itu. Ketika saya coba semakin mengamati, ternyata beliau juga tahu, matanya yang tajam dibalik kelopak matanya yang berkeriput menatap saya. Sejenak kemudian terlihat berbinar-binar dan senyumnya mengembang. Bagai disengat kalajengking saya seolah melompat menghampiri beliau, “Lama tidak bertemu Kyai,” kata saya terbata-bata dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dada.

 

Bersambung ke Oleh Oleh Dari Padepokan Klampis ireng Part 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Sastra

JANGKA RANGGAWARSITAN .I. JAKA LODANG, II. KALATIDA, III. SABDA TAMA, IV. SABDA JATI, V. KALITIDA PININGIT, VI. WEDATAMA PININGIT.   Ingkang ngimpun lan nyukani...

Sastra

PUPUH I ASMARANDANA //Kasmaran panganggitgending / Basa Sunda lumayanan / Kasar sakalangkung awon / Kirang tindak tatakrama /Ngarang kirang panalar / Ngan bawining tina...

Non Medis

Ibu ini adalah satu dari sekian orang yang terkena penyakit kiriman atau bahasa ghaibnya adalah “santet.” Pada saat kami menangani beliau ini, kiriman datang...

Gaib & Spiritual

Ketika dihadapkan pada tantangan jaman, bahwa orang yang belajar ilmu ghaib tidak lagi punya waktu lama untuk prosesi, juga tidak sanggup lagi melakukan dzikir,...

Translate »